BUDAYA KESELAMATAN PASIEN, CERMINAN MUTU PELAYANAN KESEHATAN

Oleh :

Yunina Elasari, S.Kep., Ns

Mahasiswi Program Pascasarjana Ilmu Keperawatan

 Universitas Muhammadiyah Banjarmasin, Kalimantan Selatan

Pengelola Program Studi Keperawatan dan Profesi Ners STIKES Sari Mulia

Keselamatan pasien (patient safety) akhir – akhir ini menjadi hal yang sangat penting dan selalu dikampanyekan dalam lingkungan pelayanan kesehatan. Sejak berlakunya UU No. 8/1999 tentang Perlindungan Konsumen muncullah berbagai tuntutan kepada rumah sakit. Hal ini didukung dengan adanya beberapa tuntutan kasus pasien yang meninggal karena adanya kelalaian tenaga kesehatan dalam memberikan pelayanan. Kasus yang terjadi selain merugikan pasien dan keluarga, menjadi trauma psikologis bagi petugas kesehatan yang melakukan, juga berdampak pada menurunnya  mutu suatu pelayanan kesehatan.

Data dari National Patient Safety Agency, menyebutkan dari kurun waktu 1 Oktober 2015 – 31 Maret 2016 di London Inggris pada pelayanan kesehatan akut non spesialis terjadi kecelakaan pada pasien sebesar 18.2% yang merupakan salah satu kategori insiden keselamatan pasien tertinggi. Data insiden tersebut berbeda dengan data di Indonesia. Indonesia belum memiliki sistem pencatatan kesalahan secara nasional. Data tentang KTD dan KNC di Indonesia masih sulit ditemukan untuk dipublikasikan, padahal dampak dari KTD dapat berupa cacat ringan, sedang hingga berat bahkan sampai kematian.

Upaya yang dilakukan di Indonesia antara lain terdapat pada PERMENKES No.1691/MENKES/PE/VIII/2011 tentang KP RS  yang berisi tentang enam sasaran keselamatan pasien yaitu ketepatan identifikasi pasien; peningkatan komunikasi yang efektif; peningkatan keamanan obat yang perlu diwaspadai; kepastian tepat lokasi, tepat prosedur, tepat pasien operasi; pengurangan risiko infeksi terkait pelayanan kesehatan; dan pengurangan risiko pasien jatuh. Sasaran Keselamatan pasien ini juga menjadi salah satu standar Nasional Akreditasi Rumah Sakit. Sejak tahun 2012, penilaian akreditasi didasarkan pada pelayanan yang berfokus pada pasien dan keselamatan pasien menjadi indikator standar utama penilaian akreditasi RS versi 2012.

“Aegroti Salus Lex Suprema” berarti keselamatan pasien merupakan hukum yang tertinggi. Adanya nilai, keyakinan dan persepsi dari tenaga kesehatan menghasilkan perilaku keselamatan pasien merupakan budaya keselamatan pasien bersifat statis yang berasal dari individu. Tenaga kesehatan sebagai individu terikat oleh sumpah profesi dalam memberikan pelayanan kepada pasien sehingga, jika tenaga kesehatan memaknai dengan sungguh – sungguh sumpah profesi yang sudah dilafaskannya maka ia tidak hanya akan bertanggung jawab terhadap dirinya dan profesinya, tetapi juga pada Tuhannya dalam memberikan pelayanan yang professional sehingga berkomitmen untuk menerapkan keselamatan pasien.

Selain itu budaya keselamatan pasien bersifat dinamis yaitu cara dari organisasi untuk menciptakan lingkungan yang kondusif bagi anggotanya sebagai upaya mewujudkan budaya keselamatan pasien. Organisasi pelayanan kesehatan harus mengembangkan budaya keselamatan pasien dengan tujuan yang jelas, prosedur yang tetap dan proses yang aman (WHO, 2009). Menurut The Institute of Medicine, tantangan terbesar untuk berubah ke arah sistem kesehatan yang lebih aman adalah merubah budaya dari yang bersifat menyalahkan individu atas suatu kesalahan, menjadi budaya yang menganggap kesalahan merupakan kesempatan untuk memperbaiki sistem dan mencegah cedera. Dengan budaya tidak menyalahkan diharapkan tenaga kesehatan akan berperan lebih aktif dalam melaporkan insiden keselamatan pasien sehingga meningkatkan kemampuan belajar dan mencegah terulangnya kejadian di kemudian hari.

Penerapan budaya keselamatan pasien merupakan cerminan mutu dan jaminan bagi penerima layanan kesehatan untuk terbebas dari risiko pada proses pemberian layanan kesehatan. Keselamatan pasien sebagai suatu sistem diharapkan memberikan asuhan kepada pasien dengan lebih aman, melakukan tindakan sesuai dengan standar, dan mencegah cedera akibat kesalahan tindakan atau tidak melakukan tindakan yang harusnya dilakukan. Keselamatan pasien bukan merupakan tanggung jawab perorangan dokter atau perawat yang selalu bersentuhan langsung dengan pasien melainkan seluruh tenaga kesehatan yang ada di rumah sakit yang memberikan pelayanan kepada pasien.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *